Analisis pasar · September 2026
Jika hanya melihat berita geopolitik, emas seharusnya justru naik. AS baru saja melancarkan serangan udara ke Pulau Larak, Iran membalas dengan rudal ke dua pangkalan militer AS di Yordania, dan pada 1/9 terjadi serangan baru dengan skala yang lebih besar. Secara teori, ini adalah skenario klasik untuk mendorong kenaikan aset safe haven.
Namun, emas justru bergerak berlawanan dengan logika tersebut. Pada sesi 1/9, harga emas turun hampir 2,9% dalam satu sesi dan ditutup di sekitar US$4.325/oz. Pada pagi 2/9, harga kembali melemah dan dibuka di area terendah dalam dua minggu. Dibandingkan rekor tertinggi pada Januari (sekitar US$5.400–5.600/oz), emas kini telah kehilangan lebih dari 20% nilainya.
Pertanyaan yang lebih penting bukanlah “bukankah emas seharusnya naik?”, melainkan: faktor apa yang saat ini lebih dominan dalam tarik-menarik antara risiko perang dan kebijakan moneter?
Biang utama: imbal hasil Treasury AS melonjak
Penyebab langsung dari aksi jual kali ini adalah aksi jual yang terjadi secara bersamaan di pasar obligasi. Imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun telah naik ke sekitar 4,79%, level tertinggi dalam sekitar 19 bulan.
Angka ini sangat menentukan bagi emas karena emas tidak menghasilkan bunga. Ketika imbal hasil obligasi naik, biaya peluang memegang emas dibandingkan obligasi juga meningkat, sehingga aliran modal cenderung keluar dari logam mulia.
Pada saat yang sama, indeks USD (DXY) menguat cukup signifikan. Hal ini membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor di luar AS dan semakin menambah tekanan terhadap harga.
Katalis: pernyataan hawkish Ketua Fed di Jackson Hole
Pemicu awal kenaikan imbal hasil dan aksi jual emas kali ini dapat ditelusuri ke pidato Ketua Fed Kevin Warsh pada 28/8 di konferensi Jackson Hole.
Pasar menafsirkan pidato tersebut sebagai sinyal yang lebih hawkish, sehingga probabilitas Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan 15–16/9, berdasarkan instrumen proyeksi pasar, naik menjadi sekitar 70% — level tertinggi sejak awal tahun.
Inilah mata rantai yang menghubungkan perang dengan harga emas melalui mekanisme paradoks yang telah berulang sepanjang 2026:
Konflik militer meningkat → Harga minyak naik → Inflasi headline terdorong naik
→ Fed terpaksa mempertahankan sikap lebih hawkish (alih-alih memangkas suku bunga)
→ Imbal hasil riil dan USD naik → Biaya peluang memegang emas meningkat
→ Emas TURUN, meski risiko geopolitik meningkat
Dengan kata lain, eskalasi militer di sekitar Hormuz — yang seharusnya mendukung emas melalui kanal safe haven — justru secara tidak langsung menekan harga emas melalui kanal inflasi dan kebijakan moneter.
Ini bukan fenomena baru. Logika yang sama telah memengaruhi pasar emas sejak konflik AS–Iran pecah pada akhir Februari.
Mengapa kanal “safe haven” saat ini kalah dari “biaya peluang”
Secara teori, emas dipengaruhi oleh dua kekuatan yang bergerak berlawanan:
| Faktor | Dampak terhadap emas | Sedang kuat atau lemah? |
|---|---|---|
| Risiko geopolitik (konflik di Hormuz) | Mendorong harga emas NAIK | Meningkat, tetapi pasar mulai “terbiasa” setelah berbulan-bulan konflik |
| Imbal hasil riil + USD (ekspektasi kenaikan suku bunga Fed) | Mendorong harga emas TURUN | Meningkat lebih cepat, dengan dorongan baru dari Jackson Hole |
Setelah pasar menghadapi konflik selama tujuh bulan berturut-turut, setiap eskalasi baru menghasilkan respons safe haven yang semakin lemah — sebuah fenomena yang sering disebut sebagai “bad-news fatigue”.
Sebaliknya, sinyal dari Fed bersifat baru, konkret, dan dapat diukur melalui probabilitas. Hal ini membuat model valuasi dan dana investasi lebih cepat menyesuaikan posisi dibandingkan respons emosional terhadap risiko perang.
Perspektif pasar emas fisik: sinyal dari permintaan ritel
Pergerakan harga emas fisik di pasar ritel besar seperti India juga mencerminkan tren yang sama. Harga emas domestik turun tajam mengikuti harga emas dunia, ketika imbal hasil Treasury AS naik ke level tertinggi dalam beberapa bulan dan dolar AS menguat.
Hal ini menunjukkan bahwa koreksi kali ini bukan sekadar fenomena lokal di pasar spot atau futures AS, melainkan repricing yang bersifat global.
Apa yang perlu dipantau selanjutnya
Tiga faktor akan menentukan apakah emas akan terus turun atau menemukan titik keseimbangan:
- Perkembangan militer di Hormuz dalam 1–2 minggu ke depan — jika terjadi insiden serius dalam pelayaran, seperti ranjau laut atau kapal tenggelam, respons safe haven dapat kembali menguat hingga mengalahkan pengaruh imbal hasil.
- Data inflasi yang dirilis sebelum pertemuan Fed 15–16/9 — angka CPI/PCE yang lebih rendah dari perkiraan dapat dengan cepat membalikkan ekspektasi kenaikan suku bunga dan membantu emas memantul.
- Keputusan Fed pada 16/9 — jika Fed benar-benar menaikkan suku bunga, skenario tersebut hampir pasti sudah sebagian besar diperhitungkan pasar (probabilitas 70%). Setelah itu, pergerakan harga akan lebih bergantung pada forward guidance yang menyertainya.
Secara keseluruhan, penurunan harga emas dalam beberapa hari terakhir bukanlah anomali teknikal, melainkan konsekuensi logis dari pasar obligasi dan pasar valuta yang merespons lebih cepat dan lebih kuat terhadap Fed yang condong ke kebijakan ketat — sementara risiko perang, meskipun benar-benar meningkat, untuk sementara berada di bawah faktor moneter dalam prioritas penetapan harga investor.
Artikel ini merupakan analisis pasar dan bukan rekomendasi investasi. Data harga diperbarui hingga 2/9/2026.